Merekasangat memuliakannya dan bulan-bulan haram menjadi bulan perdamaian yang berlaku secara menyeluruh. Dalam bulan haram nyaris seluruh pertikaian dan peperangan berhenti. Bahkan mereka pun menghentikan aktivitas berburu hewan karena bagaimana pun hal itu mengalirkan darah atau menghilangkan nyawa seperti halnya peperangan.
TeksKhubah Jumat | Kita masih memasuki bulan Rabi'ul Akhir di tahun Hijriyah, bulan setelah bulan kelahiran Raslullah saw. Banyak sekali pelajaran yang diberikan oleh Allah swt. kepda bangsa ini, terutama berkenaan dengan beberapa musibah dan bencana yang kerap menimpa bangsa ini.
Padabulan Rabiul Akhir tahun 4 hijriyah, Surat itu diturunkan setelah terjadinya perang Bani Nadhir. Maka pada khutbah Jumat Rabiul Akhir ini, ijinkan kami mentadabburi tiga ayat di dalam Surat Al Hasyr. Yakni ayat 18 hingga ayat 20 yang berkaitan tentang perintah untuk Bermuhasabah. 1. Surat Al Hasyr ayat 18 Jamaah Jumat hafidzakumullah,
Tag Khutbah Jumat Bulan Rabiul Akhir. Khazanah Sinta Laila Selasa, 7 Desember 2021, 11:20 Selasa, 7 Desember 2021, 11:20. Khutbah Jumat 10 Desember 2021 Bahasa Indonesia Terbaru: Larangan Percaya Pada Peramal dan Dukun. Islam melarang keras bagi pemeluknya untuk percaya kepada dukun dan peramal.
Maasyiral Muslimin rahimakumullah, Mudah-mudahan semua amal kebaikan kita selama Ramadhan diterima oleh Allah, seluruh dosa kita diampuni oleh-Nya dan kita dipertemukan dengan Ramadhan pada tahun berikutnya. Demikian khutbah yang singkat ini. Mudah-mudahan bermanfaat dan membawa barakah bagi kita semua. Amin Ya Rabbal 'Alamin.
4Materi Khutbah Jumat Paling Bagus Akhir Bulan Dzulqa'dah Daftar Khutbah Jumat PDF Lengkap Selama Bulan Ramadhan 2022, Mulai Minggu Pertama Hingga Keempat 4 Khutbah Jumat Bulan Rajab Bahasa Jawa PDF Terbaik Lengkap dengan Mukaddimah dan Khutbah Kedua 5 Khutbah Jumat Tentang Isra' Mi'raj Terbaik, Singkat dan Padat Format PDF NU
. السلام عليكم و رحمة الله و بركاتهبسم الله و الحمد للهاللهم صلى و سلم على سيدنا محمد و على أله و صحبه أجمعينKhutbah Jumat kali ini mengangkat tema tentang bulan Rabi’ul Akhir atau yang biasa juga disebut sebagai Rabi’uts Tsani. Melalui khutbah ini, para jamaah diingatkan dengan beberapa kejadian penting sejarah yang bisa diambil ibrah dan hikmahnya. Belajar dari sejarah menjadi penting untuk menjadi modal untuk terus bergerak mewujudkan kehidupan yang lebih maju. Dengan sejarah, kita bisa belajar dan mencontoh keberhasilan para pendahulu dan berusaha menghindari kegagalan yang telah dilakukan orang-orang sebelum khutbah Jumat berikut ini dengan judul “Khutbah Jumat Belajar dari Peristiwa Penting di Bulan Rabiul Akhir.” Untuk mendownload naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon download berwarna merah di bawah artikel ini. Semoga bermanfaat! الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,Menjadi sebuah keniscayaan bagi kita umat Islam untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah swt. Dengan keimanan, kita akan menjadi umat yang kuat dalam memegang prinsip dan keyakinan akidah serta mampu menjadi umat Islam yang semakin kuat dalam menjalankan ketakwaan kita akan senantiasa berada pada jalur serta senantiasa taat pada aturan yang telah ditentukan dalam agama dengan menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Iman dan takwa menjadi modal penting dalam meneguhkan keislaman sehingga kita tidak akan menghadap Allah swt kecuali dalam keadaan Islam. Allah menegaskan perintahnya dalam Al-Qur’an surat Al Imran ayat 102يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam”. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,Saat ini kita sudah memasuki bulan Rabiul Akhir atau ada yang menyebutnya dengan Rabiuts Tsani. Bulan ini adalah bulan ke-4 dalam kalender Hijriah yakni setelah bulan Rabiul Awwal dan sebelum bulan Jumadil Ula. Para ulama menyebut bahwa yang pertama kali memberi nama bulan ini dengan sebutan Rabiul Akhir adalah buyut kelima Rasulullah saw bernama Kilab bin nama ini terkait dengan peristiwa alam yakni musim rabi atau musim semi yang terjadi di Jazirah Arab. Pada musim rabi’, tanaman dan rerumputan tumbuh subur dan pepohonan berbuah. Musim rabi’ ini sering berlangsung selama dua bulan sehingga muncullah dua nama bulan yakni Rabiul Awwal dan Rabiul Akhir. Jika Rabiul Awwal merupakan bulan yang identik dengan peristiwa lahirnya Nabi Muhammad saw, Rabiul Akhir juga memiliki beberapa peristiwa penting yang bisa diambil hikmahnya. Di antaranya adalah penurunan Surat al-Hasyr pengusiran yang disebabkan upaya pembunuhan kepada Rasulullah yang dilakukan oleh kaum Yahudi bani Nadir. Kaum ini adalah kaum yang pertama dikumpulkan dan diusir dari Madinah. Hal ini disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hasyr ayat 2هُوَ الَّذِيْٓ اَخْرَجَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِاَوَّلِ الْحَشْرِۗArtinya “Dialah yang mengeluarkan orang-orang yang kufur di antara Ahlulkitab Yahudi Bani Nadir dari kampung halaman mereka pada saat pengusiran yang ahli tafsir menyebut bahwa pengusiran terhadap kaum Yahudi itu terjadi karena dua hal yakni kepemimpinan Rasulullah yang tegas dan keridaan Allah terhadap umat muslim. Peristiwa lainnya yang terjadi pada Rabiul Akhir selanjutnya adalah sejarah diutusnya Khalid ibn al-Walid oleh Rasulullah saw kepada Bani al-Harits ibn Kab pada tahun 10 Hijriah. Berkat perjuangan Khalid, Bani al-Harits ibn Kab masuk itu beberapa peperangan di zaman Nabi juga pernah terjadi pada bulan ini. Di antaranya adalah perang Dzat ar-Riqa pada tahun ke-4 Hijriah, perang al-Ghabah yang dipimpin langsung oleh Rasulullah saw pada tahun ke-6 Hijriah, dan perang al-Ghamr yang dipimpin oleh Ukasyah ibn Mihshan. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,Dari peristiwa yang terjadi di bulan Rabiul Akhir ini, mungkin kita bertanya-tanya, kenapa Nabi Muhammad sering melakukan peperangan?. Perlu diketahui, bahwa peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah adalah bukan memulai perang. Namun peperangan yang dilakukan oleh Nabi adalah dalam rangka membela di Makkah, Allah swt malah memerintahkan Nabi untuk tidak melawan. Namun setelah hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad dan pengikutnya diizinkan untuk berperang melawan orang-orang yang selama ini memerangi kaum Muslimin. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al Hajj ayat 39اُذِنَ لِلَّذِيْنَ يُقَاتَلُوْنَ بِاَنَّهُمْ ظُلِمُوْاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى نَصْرِهِمْ لَقَدِيْرٌ ۙArtinya “Diizinkan berperang kepada orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka dizalimi. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuasa membela mereka.”Selain untuk membela diri, terjadinya peperangan di zaman Nabi adalah untuk memberi pelajaran terhadap musuh yang mencari gara-gara atau bersekongkol mengganggu umat Islam meskipun sudah ada perjanjian atau kerja sama. Peperangan ini adalah untuk melakukan penertiban atau penghukuman agar perjanjian yang telah dilakukan tidak di zaman nabi juga terjadi guna menggagalkan rencana musuh yang mengancam keselamatan kaum muslim. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,Selain diizinkannya Nabi Muhammad berperang dalam rangka membela diri, Allah juga telah menurunkan firmanNya kepada Nabi Muhammad untuk menjadi pelindung semua golongan termasuk mereka yang berbeda agama. Hal ini termaktub dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 6وَاِنْ اَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِيْنَ اسْتَجَارَكَ فَاَجِرْهُ حَتّٰى يَسْمَعَ كَلٰمَ اللّٰهِ ثُمَّ اَبْلِغْهُ مَأْمَنَهٗ ۗذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْلَمُوْنَArtinya ”Jika seseorang di antara orang-orang musyrik ada yang meminta pelindungan kepada engkau Nabi Muhammad, lindungilah dia supaya dapat mendengar firman Allah kemudian antarkanlah dia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengetahui.”.Oleh karena itu, ma'asyiral muslimin rahimakumullah,Penting bagi kita untuk mempelajari sejarah-sejarah yang terjadi di bulan Rabiul Akhir sekaligus mengerti apa yang terjadi dan alasan mengapa peristiwa tersebut terjadi. Hal ini ditujukan agar kita tidak salah dalam memahami sejarah sekaligus kita bisa mengambil ibrah atau hikmah dari peristiwa-peristiwa bagi kita untuk melihat masa lalu sebagai bekal untuk menghadapi masa depan. Kesuksesan yang terjadi dalam sejarah perlu dicontoh dan diwujudkan dalam kehidupan saat ini, sementara kegagalan dalam sejarah harus menjadi pelajaran dan diusahakan dengan sekuat tenaga untuk tidak terulang kembali. Allah berfirman dalam Surat Al-Hasyr ayat 18يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ Artinya “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok akhirat, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”Rasulullah pun bersabdaمَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ . وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُوْنٌ . وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُوْنٌArtinya “Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka." HR Al-Hakim. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,Semoga hadirnya bulan Rabiul Akhir ini menjadi momentum untuk terus belajar dari sejarah dan memehaminya dengan benar. Mudah-mudahan kita termasuk golongan orang-orang yang sukses dalam mengarungi kehidupan ini dengan belajar dari sejarah. Aminبَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم Khutbah IIالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ .اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُDownload Teks Khutbah Jumat Belajar dari Peristiwa Penting pada Rabiul Akhir Untuk mengunduh file diatas silakan klik dibawah iniDemikian informasi yang dapat kami sampaikan tentang "Khutbah Jumat Belajar dari Peristiwa Penting pada Rabiul Akhir ", semoga bermanfa'at.
Ilustrasi Maulid Nabi Muhammad SAW MUKADIMAH KHUTBAH JUMAT PERTAMA اَلْحَمْدُ لله الَذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَهَدَانَا إلَى صِرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ صِرَاطِ الَذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَاالضَالِّيْنَ اَشْهَدُ اَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ اَلْمَالِكُ الْحقُّ الْمُبِيْنُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًارَسُوْلُ الله صَادِقُ الْوَعْدِ الْاَمِيْنِ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا محمدٍ فِى الْاَوَّلِيْنَ وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا محمدٍ فِى اْلاَخِرِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ فَيَا اَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوااللهَ تَعَالَى حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ وَاَخْلِصُوْا لَهُ الْعِبَادَةَ فَقَدْ اَفْلَحَ مَنْ اَخْلَصَ اَعْمَالَهُ لِهَِّى قال الله تعالى قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ. اللَّهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ Jamaah Jumat yang Berbahagia Sangat tidak mungkin kita menghitung nikmat Allah SWT yang diterima tidak hanya dalam hitungan hari, apalagi waktu yang lebih lama. Coba bayangkan dalam beberapa detik saja Allah menghentikan nikmat dalam tubuh, betapa kelabakannya kita. Oleh sebab itu marilah aneka nikmat yang ada kita syukuri dengan meningkatkan takwallah dalam arti sebenarnya. Yakni menjalankan perintah dan menjauhi yang dilarang. Mudah-mudahan dengan peningkatan kualitas takwallah tersebut kita akan mendapatkan aliran kenikmatan dalam hidup, amin ya rabbal alamin. Hadirin yang Berbahagia Tidak terasa bulan Rabiul Awal terus berjalan dan kita sudah akan memasuki penghujung bulan maulid. Lewat peringatan maulid, kita mengingat dan mempelajari sejarah perjuangan Nabi Muhammad dalam mendakwahkan agama Islam, meneladani kebaikan akhlak, dan mengikuti sunah serta memperbanyak bacaan shalawat atasnya. Yang harus menjadi perhatian di peringatan maulid kali ini adalah bagaimana kecintaan kepada Nabi Muhammad tidak bertepuk sebelah tangan. Dalam artian kita mencintai baginda, namun ternyata Nabi Muhammad tidak demikian adanya. BACA HALAMAN BERIKUTNYA.. Halaman 1 2 3 4 5 Pos terkaitTeks Khutbah Jumat PDF Tentang Haji Tiga Tanda Haji Mabrur B. IndonesiaContoh Khutbah Jumat Terbaru PDF Tentang Kematian Keadaan di Alam Barzakh B. IndonesiaTeks Khutbah Jumat Terbaru PDF Keutamaan dan Peristiwa di Bulan Dzulqadah B. JawaTeks Khutbah Jumat Terbaru PDF Keutamaan dan Peristiwa di Bulan Dzulqadah B. IndonesiaKhutbah Jumat Akhir Bulan Dzulqa’dah Bersiap Menyambut Idul Adha B. JawaKhutbah Jumat Akhir Bulan Dzulqa’dah Bersiap Menyambut Idul Adha B. Indonesia
Kini kita memasuki bulan Rabiul Akhir 1444 hijriah. Bulan keempat dalam kalender Islam. Bulan turunnya Surat Al-Hasyr, yang di dalamnya ada doa cinta orang-orang beriman lintas zaman. Karenanya, khutbah jumat Rabiul Akhir 2022 ini mengambil tema Doa Cinta Lintas Zaman. Khutbah PertamaSiapa mereka?Doa cintaJangan ada ghil di antara kitaKhutbah Kedua Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا . مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ . وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا Jamaah Jum’at hafidhakumullah,Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah yang telah menganugerahkan demikian banyak nikmat kepada kita; nikmat iman hingga nikmat kesehatan. Sehingga hari ini, memasuki Jumat pertama Rabiul Akhir, kita bisa mendirikan sholat Jumat dan mendengarkan khutbah. Maka marilah kita berupaya memperbanyak syukur dan meningkatkan taqwa. Pada bulan yang sama, tepatnya pada Rabiul Akhir 4 hijriyah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Surat Al-Hasyr. Allah menurunkan surat itu setelah terjadinya perang Bani Nadhir. Di antara ayatnya ada yang berisi doa orang-orang yang beriman yang semestinya doa itu kita amalkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam ayat 10 Surat Al Hasyr وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ Dan orang-orang yang datang sesudah mereka Muhajirin dan Anshar, mereka berdoa “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” QS. Al-Hasyr 10 Siapa mereka? Jama’ah Jum’at yang Allah muliakan,Siapakah walladziina jaa’u mim ba’dihim yang Allah maksudkan dalam ayat ini? Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan, ada dua penafsiran. Sebagian ulama menafsirkan mereka adalah tabi’in, generasi sesudah sahabat yang berguru dan belajar kepada mereka. Sebagian ulama lagi menafsirkan mereka adalah orang-orang yang beriman kepada risalah Nabi Muhammad meskipun telah jauh jarak waktunya dengan Muhajirin dan Anshar. Pendapat kedua inilah yang Buya Hamka pilih. Maka beliau melajutkan, “Walaupun kita yang 14 abad sesudah Nabi ini, masuklah juga dalam golongan walladziina jaa’uu min ba’dihim asalkan kita setia memegang teguh ajarannya dan menjalankan sunnahnya.” Ibnu Katsir juga menafsirkan bahwa mereka adalah generasi setelah muhajirin dan anshar yang mengikuti jejak dan sifat-sifat baik mereka. Sebagaimana Allah firmankan dalam Surat At-Taubah ayat 100 وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. QS. At-Taubah 100 Ketika mendengar seorang laki-laki membaca Surat At Taubah ayat 100 ini, Umar bin Khattab bertanya, “Siapa yang mengajarimu ayat ini?”“Ubay bin Ka’ab.”“Jangan berpisah dariku sebelum aku hadapkan kamu kepada Ubay bin Ka’ab.” Umar pun mengajak orang itu menemui Ubay bin Ka’ab. “Apakah engkau yang mengajarkan bacaan ini kepadanya?” tanya Umar kepada Ubay.“Ya, benar.”“Apakah kamu mendengarnya dari Rasulullah?”“Ya, aku mendengarnya dari beliau.”“Sebelumnya aku mengira bahwa kita telah menduduki tingkatan tinggi yang tidak mungkin dicapai oleh generasi sesudah kita.” Demikianlah, Umar bin Khattab radhiyallahu anhu sampai takjub ternyata generasi berikutnya memiliki peluang kedudukan mulia di akhirat kelak sebagaimana generasi sahabat. Suatu hari, Rasulullah menyatakan rindu pada saudara-saudaranya. وَدِدْتُ أَنِّي قَدْ رَأَيْتُ إِخْوَانَنَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَسْنَا إِخْوَانَكَ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ أَصْحَابِي وَإِخْوَانِي الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ “Aku ingin melihat saudara-saudaraku.” Sebagian sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah kami adalah saudara-saudaramu?” Beliau menjawab, “Kalian adalah sahabat-sahabatku. Saudara-saudaraku belumlah datang sekarang. Aku akan menemui mereka di al-Haudh.” HR. An Nasa’i; shahih Demikianlah, bahkan Rasulullah menyatakan kerinduannya pada umat yang belum lahir pada saat itu. Umat yang tidak pernah berjumpa beliau tetapi beriman kepada beliau. Rasulullah akan menemui mereka di telaga Al-Kautsar. Mereka itulah walladziina jaa’u mim ba’dihim dan semoga kita termasuk di dalamnya. Doa cinta Mereka itu berdoa, memohon ampunan untuk diri mereka sendiri dan memohonkan ampunan untuk para pendahulu dari kalangan orang-orang beriman. Terutama para sahabat Nabi. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, Inilah yang mereka pinta; ampunan Allah. Karena kunci kebaikan di dunia dan akhirat adalah ampunan-Nya. Kunci kebahagiaan dalam hidup ini serta kehidupan setelah mati adalah ampunan-Nya. Memohon ampunan artinya kita menyadari bahwa kita tidak luput dari dosa dan hanya kepada Allah kita minta ampunan karena hanya Dia yang bisa mengampuni kita. Hanya Dia yang bisa membersihkan dan menjaga kita dari segala bentuk dosa. Namun, permohonan ampunan ini bukan hanya untuk pribadi tetapi juga untuk para pendahulu dari kalangan orang-orang mukmin, terutama para sahabat radhiyallahu anhum ajma’in. Ayat juga menunjukkan bahwa orang-orang mukmin itu saling mencintai melebihi batas generasi. Mereka saling mendoakan terutama untuk para sahabat Nabi. Maka Ibnu Katsir mengecualikan syiah rafidhah dari golongan ini karena mereka mencaci sahabat Nabi. Ayat ini sekaligus menunjukkan bahwa doa untuk orang-orang yang telah meninggal itu sampai dan bermanfaat untuk mereka. Sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberikan tuntunan untuk mendoakan para sahabat melalui doa yang Dia abadikan dalam Al-Qur’an. Jangan ada ghil di antara kita Bagian kedua dari doa mereka memohon kebersihan hati dari ghil. وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan, ghil adalah jengkel, benci, dan hasad. Maka jangan sampai ada rasa benci dan iri dengki kepada orang-orang yang beriman. Bahkan, rasa jengkel yang lebih halus dari iri pun harus kita kikis. Kita memohon kepada Allah agar penyakit-penyakit hati ini tidak masuk dalam hati kita. “Ayat ini menjadi dalil tentang solidaritas di antara segenap lapisan generasi umat, mulai generasi pertama dan generasi-generasi berikutnya. Juga kewajiban mencintai sahat dan perintah mendoakan mereka,” terang Syekh Wahbah Az-Zuhaili. Sayyid Qutb lebih tegas lagi. Dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an beliau menjelaskan, dari ayat ini, tampak dengan jelas tabiat dan gambaran umat Islam yang cerah dan bersinar di alam semesta. Perekat yang kuat dan kokoh mengikat antara kelompok awal umat ini dengan kelompok yang kemudian. Dengan rasa saling mengasihi dan saling mencintai dalam ikatan kekeluargaan dan persaudaraan yang melampaui batas teritorial dan lintas zaman. Islam yang membangun masyarakat berbasis kasih sayang sungguh bertolak belakang dengan masyarakat yang ingin dibangun ideologi semacam komunis Karl Marx yang menciptakan masyarakat saling benci dan saling memusuhi. أَقُوْلُ قَوْلِ هَذَا وَاسْتَغْفِرُوْاللَّهَ الْعَظِيْمِ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ Khutbah Kedua إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ باَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ . رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ. اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ . رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ Jamaah Jum’at hafidhakumullah,Doa mereka ditutup dengan pernyataan bahwa Allah Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat penyantun kepada umatnya. Allah menggelarinya bil mu’miniina ra’ufur rahim. Rasulullah tidak mau umatnya mendapatkan azab seperti umat terdahulu. Beliau selalu mengkhawatirkan umatnya sehingga saat menjelang wafat, yang beliau sebut adalah ummatii, ummatii. Bahkan beliau tidak menggunakan doa pamungkas di dunia ini karena akan beliau pergunakan untuk memberikan syafaat kepada umatnya di akhirat nanti. Demikian sayangnya Rasulullah kepada umat ini, dan sungguh sebagaimana sabda Rasulullah, kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya lebih besar lagi. Maka marilah kita berdoa memohon ampunan dan kasih sayang-Nya. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ باَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ . رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ. اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ . رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
403 ERROR Request blocked. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation. Generated by cloudfront CloudFront Request ID Pbi-DekFgPZxy7iNhtqV4REDGEx-j5xOKrbZn5G3COw_4wrEIWYh-g==
Kita tengah berada di bulan Rabiul Akhir 1443 Hijriyah. Banyak peristiwa terjadi di bulan ini. Pandemi belum berakhir, di beberapa daerah terjadi banjir, yang semuanya membutuhkan kepedulian. Di sisi lain, ada hal yang miris. Yakni gaduhnya akun-akun yang menyuarakan pembubaran Majelis Ulama Indonesia MUI. Karenanya khutbah Jumat Rabiul Akhir 2021 ini mengambil tema Kasih Sayang Tanpa Kedengkian. Tema ini mengambil inspirasi dari Surat Al Hasyr ayat 10 yang turun pada bulan Rabiul Akhir 4 Hijriyah. Khutbah PertamaBukti Kasih Sayang Sesama MukminKasih Sayang Tanpa KedengkianKhutbah Kedua Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا . مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ . وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah, Kita sekarang berada di tanggal 13 bulan Rabiul Akhir 1443 Hijriyah, bertepatan dengan 19 November 2021. Di tengah pandemi yang masih belum berlalu, mari kita tingkatkan ketaqwaan kita. Karena taqwa adalah sebaik-baik bekal kita. Pada bulan yang sama, Jumadil Akhir 4 Hijriyah, pasca Perang Bani Nadhir, turun Surat Al Hasyr. Di antara ayat yang sangat relevan dengan kondisi kita hari-hari ini dan karenanya patut kita renungkan bersama adalah ayat 10 dari surat itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ Dan orang-orang yang datang sesudah mereka Muhajirin dan Anshor, mereka berdoa “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. QS. Al Hasyr 10 Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar menyebutkan ragam penafsiran mengenai siapa yang Allah maksud dengan walladziina jaa’uu min ba’dihim orang-orang yang datang sesudah mereka. Sebagian mufassirin berpendapat, mereka adalah tabi’in. Karena merekalah yang datang setelah generasi sahabat Muhajirin dan Anshar. Namun lebih banyak mufassirin yang berpendapat bahwa mereka adalah generasi sesudah sahabat secara umum. Baik tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan generasi sesudahnya. Karena itu, doa dalam ayat ini juga merupakan tuntunan doa untuk kita amalkan sebagai generasi yang datang sesudah generasi pertama. Bukti Kasih Sayang Sesama Mukmin Jamaah Jum’at rahimakumullah, Doa dalam Surat Al Hasyr ayat 10 ini menggambarkan hubungan persaudaraan sesama mukmin. Bahwa orang-orang yang beriman itu, mereka bersaudara dan karenanya saling mendoakan. إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. QS. Al Hujurat 10 Kata ikhwah إخوة adalah bentuk jamak dari kata akh أخ, yang artinya saudara. Kata ikhwah biasanya untuk persaudaraan sekandung, sedangkan kata ikhwan إخوان yang juga bentuk jamak dari kata akh, untuk persaudaraan yang tidak sekandung. Surat Al Hujurat Ayat 10 menggunakan kata ikhwah, memberikan isyarat bahwa persaudaraan kaum mukminin lebih kuat daripada ikatan darah saudara kandung. Karenanya, orang-orang yang beriman itu mendoakan pendahulunya, memintakan ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ … Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami…. QS. Al Hasyr 10 Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam Tafsir Al Munir menjelaskan, ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang mukmin yang datang kemudian dari generasi ke generasi diperintahkan untuk memohonkan ampunan bagi para generasi terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar.” Ketika menafsirkan ayat ini, Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an mengatakan, “Inilah gambaran ketika yang bersih, memuaskan, dan menyadarkan. Ia menampakan ciri-ciri yang paling menonjol dari para tabiin sebagaimana ia juga menampakan karakter-karakter yang paling khusus dari umat Islam dalam segala tempat dan zaman.” “Orang-orang yang datang setelah Muhajirin dan Anshar belum belum muncul ketika ayat ini turun di Madinah. Namun mereka telah hadir dalam ilmu Allah dan dalam hakikat yang ada dalam ilmu yang mutlak dari batasan zaman dan tempat. Sifat-sifat jiwa mereka selalu mengarah kepada Tuhannya untuk memohon ampunan bagi dirinya sendiri dan orang-orang yang telah mendahului mereka dalam keimanan.” Kasih Sayang Tanpa Kedengkian Doa tersebut belum selesai. Setelah memohonkan ampunan untuk generasi pendahulu terutama para Sahabat Nabi, Surat Al Hasyr ayat 10 mengajarkan lanjutan doanya adalah memohon keselamatan dari ghill. وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ … dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. QS. Al Hasyr 10 Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa ghill adalah rasa dengki dan kebencian. Orang-orang mukmin, mereka tidak ingin hatinya ada dengki dan kebencian kepada sesama mukmin. Karenanya mereka berdoa kepada Allah agar tidak membiarkan ghill dalam hati mereka. “Mereka memohon agar hati mereka terbebas dari kebencian dan hasad kepada orang-orang yang beriman secara mutlak. Yaitu orang-orang yang memiliki hubungan iman dengan mereka. Bersama itu mereka merasakan kasih sayang Allah dan rahmat-Nya,” tulis Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Dalam ayat yang lain, Allah mensifati orang-orang mukmin itu saling lemah lembut kepada sesamanya. Tidak ada ghill, tidak ada dengki dan kebencian. مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka… QS. Al Fath 29 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir… QS. Al Maidah 54 Karenanya, di tengah pandemi yang belum selesai dan datangnya musibah banjir di beberapa daerah, seharusnya ayat ini menjadi panduan kita. Berangkat dari saling mencintai, kita wujudkan kepedulian dengan mendoakan dan membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan. Lalu, jangan sampai kita dengki kepada orang yang beriman. Terlebih para ulama. Karenanya, sungguh tidak pantas ketika ada orang yang menyuarakan pembubaran majelis ulama. Sebab dengki dan benci tidak pantas bercokol di hati. “Karena dengki adalah penyakit yang paling berbahaya dalam merusakkan iman itu sendiri dalam jiwa orang yang pendengki,” kata Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar. أَقُوْلُ قَوْلِ هَذَا وَاسْتَغْفِرُوْاللَّهَ الْعَظِيْمِ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ Khutbah Kedua الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ . أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah, Setiap kita pasti berdosa. Karenanya, kita harus memperbanyak memohon ampunan-Nya. Doa dalam Surat Al Hasyr ayat 10 mengajarkan kita untuk memohon ampun atas dosa-dosa kita sekaligus memohonkan ampun untuk orang-orang mukmin sebelum kita. Doa itu juga mengajarkan kita untuk saling mencintai dengan sesama mukmin dan tidak mendengki mereka. Kita laksana satu tubuh, jika satu terkena musibah yang lain juga turut merasakan dan karenanya menunjukkan kepedulian. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهْرِ وَالْحُمَّى Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berlemah-lembut di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badan sakit, maka semua anggota badannya juga merasa demam dan tidak bisa tidur. HR. Bukhari dan Muslim Di akhir khutbah kedua ini marilah kita berdoa kepada Allah semoga Allah mengampuni kita atas segala dosa dan kesalahan. Juga memberkahi bangsa kita, menolong seluruh kaum muslimin. Dan menjadikan kita semua sebagai ahli surga. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ باَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ . رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ. اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ . رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Khutbah Jumat Rabiul Akhir ini mengambil tema Muhasabah Berujung Jannah. Bersumber dari Surat Al Hasyr yang turun pada bulan Rabiul Akhir tahun 4 hijriyah. Bagaimana muhasabah yang berujung jannah? Berikut ini kami persembahkan dalam bentuk teks khutbah Jumat Khutbah Pertama dari Khutbah Jumat Rabiul AkhirSurat Al Hasyr ayat 18Surat Al Hasyr ayat 19Surat Al Hasyr ayat 20Khutbah Kedua Khutbah Jumat Rabiul Akhir Khutbah Pertama dari Khutbah Jumat Rabiul Akhir إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا . مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ . وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,Segala puji bagi Allah yang senantiasa melimpahkan nikmatNya kepada kita. Nikmat kesehatan yang membuat kita bisa dengan mudah melangkah ke masjid untuk mengikuti sholat Jumat. Dan yang paling besar adalah nikmat iman yang menggerakkan hati kita untuk memenuhi perintahNya. Tidak sedikit laki-laki yang badannya sehat tapi hatinya sakit sehingga tidak mau sholat Jumat. Sholawat dan salam atas Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang telah memberikan contoh dan keteladanan kepada kita semua. Beliau senantiasa berjuang untuk umatnya agar selamat di dunia dan di akhirat masuk surga. Bahkan menjelang wafat pun beliau mengkhawatirkan umatnya. Maka semoga kita dimudahkan Allah untuk mengikuti beliau, menghidupkan sunnahnya dan kelak mendapat syafaatnya. Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,Hari ini kita berada di tanggal 8 Rabiul Akhir 1441 hijriyah. Pada bulan yang sama, Rabiul Akhir tahun 4 hijriyah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Surat Al Hasyr. Surat itu diturunkan setelah terjadinya perang Bani Nadhir. Maka pada khutbah Jumat Rabiul Akhir ini, ijinkan kami mentadabburi tiga ayat di dalam Surat Al Hasyr. Yakni ayat 18 hingga ayat 20. Surat Al Hasyr ayat 18 Jamaah Jumat hafidzakumullah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam ayat 18 Surat Al Hasyr يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok akhirat; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. QS. Al Hasyr 18 Ayat ini menyerukan kepada orang-orang yang beriman untuk bertaqwa kepada Allah. Dan yang luar biasa, perintah taqwa di ayat ini disebut dua kali. Dan inilah satu-satunya ayat dalam Al Quran yang di dalam satu ayat diserukan dua kali perintah taqwa. Kedua perintah taqwa ini mengapit “wal tandzur nafsun maa qaddamat lighad.” Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Para ulama mufassirin menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan hari esok ghad pada ayat ini adalah akhirat. Maka ayat ini sesungguhnya memerintahkan kita untuk banyak bermuhasabah. Setiap ada kesempatan, setiap periode waktu tertentu, sempatkan untuk muhasabah. Apa yang telah kita lakukan untuk akhirat kita. Jika perusahaan pada akhir tahun seperti ini sibuk menyelesaikan laporan untuk bahan evaluasi, semestinya kita yang mengejar akhirat lebih perhatian pada muhasabah amal-amal kita. Ketika menjelaskan Surat Al Hasyr ayat 18, Ibnu Katsir mengingatkan sebagaimana Khalifah Umar bin Khattab mengingatkan حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا Hisablah diri kalian sendiri sebelum dihisab Allah. Lakukan muhasabah di dunia ini sebelum dihisab Allah di akhirat nanti. Maka mari kita lihat bagaimana aqidah kita. Apakah masih rapuh atau mungkin ada hal yang perlu dikuatkan. Kita evaluasi ibadah kita. Jika kita tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu, apakah sudah berjamaah. Apakah kita juga mengerjakan sholat sunnah. Apakah sholat kita semakin khusyu’. Demikian pula ibadah-ibadah lainnya. Juga terkait dengan hablum minan nas. Bagaimana perlakuan kita kepada istri, kepada anak-anak, bakti kita kepada orangtua. Akhlak kepada guru, kepedulian kepada tetangga, bantuan kepada kaum dhuafa. Semua itu akan menjadi bekal kita untuk masa depan. Ghad. Akhirat. Surat Al Hasyr ayat 19 Jamaah Jumat rahimakumullah, Allah Subhanahu wa Ta’ala melanjutkan firman-Nya وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. QS. Al Hasyr 19 Jangan pernah lupa kepada Allah. Selalu sertakan Allah dalam kehidupan kita. Perbanyak dzikir menyebut asma Allah, tetapi juga selalu ikuti tuntunan Allah dalam segala perbuatan yang kita lakukan. Memahami aturan Allah dan menaatinya pada setiap langkah, inilah hakikat dzikir dalam kehidupan. Jangan sampai melupakan Allah. Karena ketika kita melupakan Allah, Allah akan menjadikan kita lupa diri. Timbul kesombongan seperti iblis, yang akhirnya diharamkan masuk surga. Na’udzubillah. Jangan melupakan Allah. Karena ketika kita melupakan Allah, Allah akan menjadikan kita lupa diri. Merasa paling berkuasa dan bisa berbuat apa saja. Seperti Fir’aun yang akhirnya binasa, ditenggelamkan Allah di laut merah. Na’udzubillah. Jangan melupakan Allah. Karena ketika kita melupakan Allah, Allah akan menjadikan kita lupa diri. Merasa paling kaya dan membanggakan kekayaannya. Seperti Qarun yang akhirnya binasa, ditelan bumi beserta seluruh hartanya. Na’udzubillah. Surat Al Hasyr ayat 20 Kemudan di ayat 20, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung. QS. Al Hasyr 20 Orang-orang yang suka bermuhasabah, lalu senantiasa ingat Allah, mereka beriman dan bertaqwa, ujung nasibnya adalah surga. Sedangkan orang-orang yang lalai tidak bermuhasabah, lupa dengan Allah, mereka akan semakin jauh hingga tempat kembalinya adalah neraka. Dan tidak sama antara surga dan neraka. Tidak sama antara penghuni surga dengan penghuni neraka. Penghuni surga adalah orang-orang yang paling beruntung. Sedangkan penghuni neraka adalah orang-orang yang paling merugi. Semoga kita semua dimudahkan Allah untuk bermuhasabah, mengevaluasi diri sendiri. Sehingga semakin baik amal kita, semakin banyak bekal akhirat, semakin dekat dengan Allah dan kelak Allah memasukkan kita ke dalam surga-Nya. أَقُوْلُ قَوْلِ هَذَا وَاسْتَغْفِرُوْاللَّهَ الْعَظِيْمِ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ . أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,Di khutbah yang kedua ini marilah kita berdoa kepada Allah semoga Allah mengampuni kita atas segala dosa dan kesalahan. Semoga Allah mengistiqamahkan kita di jalan-Nya dan menjadikan kita ahli surga. Juga memberkahi negeri ini dan kaum muslimin di mana pun mereka berada. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ باَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ . رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ. اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ . رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
khutbah jumat bulan rabiul akhir