AyatAl-Quran Tentang Hubungan Umat Beragama Ayat-ayat tentang hubungan umat beragama dapat dilihat dalam (1) surat al-Baqarah ayat 62, 120 dan 213, (2) surat Ali Imran ayat 61 dan 118, (3) surat Al-Mumtahanah ayat 7-9, dan (4) surat Al-Kafirun Ayat 1-6 sebagai berikut: Menjadikan perbedaan warna kulit dan keturunan serta ras dan bangsa
isikandungan surah ali imran ayat 3 tentang kitab-kitab yang diturunkan allah swt lengkap bacaan dan terjemah - mantra sukabumi
Ayatyang ketiga tentang toleransi adalah bahwa perbedaan pandangan adalah ciptaan Allah. Dan kita tidak ada hak untuk menyatukan satu pandangan saja. "Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya." (QS.
Artinya "Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan
Karenaitu orang Islam harus memahami artinya, mengetahui rahasianya, dan mengamalkan isi Alquran itu untuk mendapatkan kebahagiaan hidup dunia akhirat. Tidak sama semua orang itu dapat memahami lafadz-lafadz dan ibarat-ibarat, di samping menjelaskan keterangan ayat-ayatnya itu. Cara dan kemampuan berpikir orang itu berlain-lainan mengenai
Nafi menjawab, "Ia adalah seorang yang paham Kitabullah. Ia pun paham ilmu faroidh (hukum waris)." 'Umar pun berkata bahwa sesungguhnya Nabi kalian -shallallahu 'alaihi wa sallam- telah bersabda, "Sesungguhnya suatu kaum bisa dimuliakan oleh Allah lantaran kitab ini, sebaliknya bisa dihinakan pula karenanya." (HR. Muslim no. 817).
. Allah SWT telah menciptakan manusia dan menurunkannya ke muka bumi dengan berbagai keragaman di dalamnya. Tak hanya manusia saja yang Allah ciptakan dan turunkan di muka bumi ini, terdapat pula makhluk-makhluk lainnya yang juga tidak seragam. Contohnya seperti siang dan malam, bulan dan bintang serta hewan dan tumbuhan. Dengan beragamnya makhluk hidup yang diciptakan Allah SWT, diharapkan umat manusia dapat memiliki toleransi akan perbedaan tersebut dan menciptakan perdamaian di bumi. Perintah perdamaian itu sendiri tertuang langsung di dalam Al-Quran. Berikut ini penjalasan tentang beberapa ayat Al-Quran tentang Budaya perdamaian dalam berperangIlustrasi Perdamaian Jonathan Meyer/PexelsAllah berfirman surat An Anfal Ayat 61۞ وَاِنْ جَنَحُوْا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ wa in janaḥụ lis-salmi fajnaḥ lahā wa tawakkal 'alallāh, innahụ huwas-samī'ul-'alīmArtinya“Tetapi jika mereka condong kepada perdamaian, maka terimalah dan bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”Ayat di atas merupakan penjelasan bahwa agama islam sangat menjunjung tinggi perdamaian dan diplomasi. Ayat ini adalah lanjutan dari ayat yang sebelumnya yang mana membahas tentang hubungan perjanjian dengan musuh dalam sebuah Perdamaian antar umat beragamaSumber Gambar berfirman surat Al Baqarah ayat 256لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗوَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ lā ikrāha fid-dīn, qat tabayyanar-rusydu minal-gayy, fa may yakfur biṭ-ṭāgụti wa yu`mim billāhi fa qadistamsaka bil-'urwatil-wuṡqā lanfiṣāma lahā, wallāhu samī'un 'alīm Artinya“Tidak ada paksaan dalam menganut agama Islam, sesungguhnya telah jelas perbedaan antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”Ayat ini menjelaskan bahwa tidak adanya paksaan untuk dapat memasuki agama Islam. Islam disebarkan tidak dengan menggunakan pemaksaan, namun memberikan argumen atau penjelasan yang valid. Sehingga, orang-orang yang mendengarkan dakwah dapat menerima dengan hati terbuka tanpa adanya keterpaksaan. Agama Islam adalah agama yang sempurna, agama yang menjadi jalan keluar dari berbagai kesulitan dalam kehidupan ini. Tentu saja agama Islam ini juga menjadi rahmat bagi seluruh semesta alam. Baca Juga Saling Toleransi, Persahabatan Tak Terhalang Perbedaan Agama 3. Kesamaan derajat manusia Allah berfirman surat Al Hujurat ayat 13يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min żakariw wa unṡā wa ja'alnākum syu'ụbaw wa qabā`ila lita'ārafụ, inna akramakum 'indallāhi atqākum, innallāha 'alīmun khabīrArtinya“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”Ayat ini menjelaskan tentang prinsip dasar hubungan manusia dan menegaskan serta menunjukkan kesamaan derajat kemanusiaan antar umat manusia. Allah SWT mengingatkan kita untuk tidak merasa bangga atau sombong kepada makhluk lainnya. Tidak ada perbedaan nilai kemanusiaan antara lelaki dan pembahasan mengenai ayat Al-Quran tentang perdamaian. Semoga dengan membacanya, kita dapat menciptakan kedamaian bagi seluruh umat manusia. Amin.
1 Juni 2022 Ayat Alquran Tentang Perbedaan – Tak bisa dipungkiri, manusia hidup dalam beraneka rupa perbedaan. Mulai dari keragaman suku, bangsa, agama, hingga pandangan politik. Lantas, bagaimanakah ayat Alquran tentang perbedaan memandang fenomena ini? Simak pembahasannya berikut ini. Ayat Alquran Tentang Perbedaan Surat yang Menjelaskan tentang Perbedaan Bolehkah Menikah Beda Agama?Bagaimana Pandangan Islam Tentang Perbedaan?Cara Membangun Kebersamaan dalam KeragamanDaftar Rujukan Perbedaan dalam Al-Quran QS. Al-Hujurat ayat 13QS. Al-Baqarah ayat 221 وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَArtinyaDan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang laki-laki musyrik dengan perempuan yang beriman sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Allah menerangkan ayat ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil ArRum ayat 22وَمِنْ آَيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ Surat yang Menjelaskan tentang Perbedaan Surat apa yang menjelaskan tentang perbedaan? Kita bisa menemukan salah satunya dalam surat Al-Hujurat ayat 13. Dalam ayat tersebut Allah menerangkan bahwa terciptanya manusia pertama kali juga berasal dari dua insan yang berbeda, yaitu laki-laki dan perempuan. Kemudian manusia tumbuh, berkembang, dan beranak pinak hingga membentuk suku dan bangsa yang berbeda-beda. Tapi Allah melanjutkan bahwa perbedaan tersebut justru ditujukan supaya antar-manusia saling mengenal satu sama lain. Jadi, perbedaan bukanlah penghalang untuk saling berteman, bersilaturahmi, dan bekerjasama. Perbedaan adalah keniscayaan yang Allah takdirkan dan kita diminta untuk saling mengenal dan memahami. Bukan malah membenci atau memusuhi. Dalam ayat itu pula dijelaskan bahwa manusia paling mulia menurut Allah dilihat dari segi ketaqwaan. Hal ini menegaskan bahwa semua perbedaan yang terlihat secara materi, seperti harta, pendidikan, hingga warna kulit tidaklah penting. Karena Allah hanya melihat ketaqwaan hambaNya saja. Bolehkah Menikah Beda Agama? Untuk berteman dan bekerjasama dengan non-muslim memang dibolehkan. Tapi bagaimana dengan pernikahan beda agama? Adakah surat Alquran tentang tidak boleh menikah beda agama? Surat Al-Baqarah ayat 221 seringkali dijadikan rujukan untuk menjawab persoalan ini. Dalam ayat tersebut Allah melarang laki-laki mukmin untuk menikahi perempuan musyrik. Begitu pula sebaliknya, jangan sampai menikahkan wanita mukmin dengan lelaki musyrik. Meskipun laki-laki atau wanita tersebut menarik, namun sebaiknya jangan dinikahi jika mereka musyrik. Ayat ini mendasari Majelis Ulama Indonesia MUI mengeluarkan fatwa pernikahan beda agama. Fatwa itu menyebutkan bahwa hukum pernikahan beda agama dalam Islam adalah haram. Sehingga jika ada yang nekat menikah beda agama, pernikahan tersebut tidak sah. Bagaimana Pandangan Islam Tentang Perbedaan? Dalam surat Al-Hujurat ayat 13 yang telah dibahas sebelumnya, kita bisa mengetahui bahwa hakikatnya Allah menciptakan manusia dalam berbagai keragaman. Tujuannya supaya manusia saling mengenal dan menghargai perbedaan tersebut sebagai keniscayaan. Hal serupa juga difirmankan Allah dalam surat ArRum ayat 22. Allah menerangkan bahwa dunia seisinya diciptakan secara berlainan. Mulai dari langit dan bumi, hingga manusia yang berbeda-beda warna kulit dan bahasa. Allah juga menyebutkan bahwa hal itu semata-mata adalah kekuasaan-Nya dan merupakan bukti kebesaranNya yang patut kita imani. Sebagai manusia yang bijak, kita diminta untuk bersikap toleran dan saling menghargai, termasuk kepada orang non-muslim. Keragaman agama merupakan realitas dan Allah menghendaki adanya perbedaan keyakinan antar umatNya tersebut. Kita sendiri tidak perlu menghakimi kekafiran atau kemusyrikan orang lain. Sebab, hanya Allah yang berhak mengadili keimanan seseorang di akhirat nanti. Cara Membangun Kebersamaan dalam Keragaman Dari semua perbedaan yang ada, lantas bagaimana membangun kebersamaan dalam keragaman pada kehidupan sosial? Kita bisa memulainya dengan beberapa langkah sederhana berikut ini. Bersikap menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi toleransi. Tetap menjalin kerjasama, kebersamaan, pertemanan, dan saling membantu. Saling belajar dan mengambil pelajaran berharga satu sama lain agar bisa berkembang. Hindari bersikap jumawa dan merasa paling benar sendiri. Tetaplah bersikap bijaksana, tidak menjatuhkan atau asal menghakimi orang lain hanya karena perbedaan SARA. Daftar Rujukan Perbedaan dalam Al-Quran QS. Al-Hujurat ayat 13 يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ Artinya Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. QS. Al-Baqarah ayat 221 وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ Artinya Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang laki-laki musyrik dengan perempuan yang beriman sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Allah menerangkan ayat ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran. QS. ArRum ayat 22 وَمِنْ آَيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ Artinya Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah penciptaan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. Dari beberapa ayat Alquran tentang perbedaan di atas, kita bisa belajar bahwa perbedaan antar manusia sejatinya adalah takdir Allah. Hal itu dimaksudkan agar kita saling toleran dan saling mengenal satu sama lain untuk mewujudkan kehidupan yang damai dan lebih baik. Temukan Review Supplier Keramik, Supplier Besi Baja, Supplier Kamera CCTV, Supplier Pakan Ternak, Supplier Pupuk PertanianAnda bisa baca juga Asuransi Terbaik, Harga Emas, Cryptocurenncy, FOREX, Kredit Mobil Murah
Ilustrasi membaca Al-quran. Foto abamjiwa al-hadi/ adalah kitab suci utama dalam agama Islam Kalam Allah SWT, yang dipercayai Muslim bahwa kitab ini diturunkan oleh Allah, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ayat Alquran beserta terjemahan menurut Kemenag RI tentang tukar Al-Baqarah Ayat 275اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبٰوا لَا يَقُوْمُوْنَ اِلَّا كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطٰنُ مِنَ الْمَسِّۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْٓا اِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبٰواۘ وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ فَمَنْ جَاۤءَهٗ مَوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖ فَانْتَهٰى فَلَهٗ مَا سَلَفَۗ وَاَمْرُهٗٓ اِلَى اللّٰهِ ۗ وَمَنْ عَادَ فَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَOrang-orang yang memakan bertransaksi dengan riba tidak dapat berdiri, kecuali seperti orang yang berdiri sempoyongan karena kesurupan setan. Demikian itu terjadi karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Siapa pun yang telah sampai kepadanya peringatan dari Tuhannya menyangkut riba, lalu dia berhenti sehingga apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya terserah kepada Allah. Siapa yang mengulangi transaksi riba, mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di selaku penulis sangat terbuka apabila pembaca memiliki kritik dan saran. Silahkan hubungi kami melalui alamat surel berikut [email protected]
- Dalil tentang toleransi terkandung banyak di ayat-ayat Al Quran. Toleransi tasamuh bukan hal yang baru di dalam Islam, karena pada saat Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam masih hidup pun, telah ada banyak perbedaan dalam masyarakat yang hidup di Mekah dan Madinah kala itu. Kendati demikian sikap dan perilaku Nabi selalu mencontohkan pada perbuatan yang toleran kepada kaum yang tidak seakidah. Jika merujuk pada beberapa ayat Al Qur’an, terdapat konsep toleransi yang tersurat di dalamnya walau memang tidak secara gamblang menyebut kata tasamuh atau toleransi. Akan tetapi ayat-ayat tersebut dapat menjadi dasar dalil dari sikap toleransi di dalam Islam yang selama ini diterapkan pada kehidupan sehari-hari selain beberapa hadis yang juga menjadi rujukan. Rasulullah Salallahu alaihi wassalam berinteraksi juga dengan non muslim di Mekah dan Madinah, bahkan berniaga atau berdagang dengan mereka. Jadi bukan hal yang baru bagi umat Islam untuk diharuskan bersikap toleran saat ini, karena toleransi sudah diajarkan sejak 14 abad silam oleh Nabi Muhammad SAW. Pengertian toleransi atau tasamuh Apa pengertian dari toleransi? Secara etimologi, toleransi berasal dari Bahasa Latin “tolerare” yang artinya “saling menanggung” atau “saling memikul”. Makna yang dapat disimpulkan adalah sikap saling memikul walau hal atau pekerjaan itu tidak disukai. Bisa juga dimaknai sebagai memberi tempat kepada orang lain walau mereka tidak satu pendapat Siagian, 1993 115. KBBI sendiri menulis toleransi berasal dari bahasa Inggris tolerance yang maknanya sama seperti makna pada kamus bahasa Inggris yakni the ability or willingness to tolerate something, in particular the existence of opinion or behavior that one does not necessarily agree with atau kemampuan untuk mentolerir sesuatu walau terdapat perbedaan opini atau ketidak setujuan. Merujuk laman dalam bahasa Arab, toleransi disebut tasamuh Mandzur, Lisan al-Arab, Maktabah Syamilah yang artinya membiarkan sesuatu untuk dapat saling mengizinkan dan saling memudahkan. Bisa juga diartikan kesabaran, ketahanan emosional dan lapang dada. Dalil tentang toleransi di Ayat-Ayat Al Quran Al-Qur’an surat Al-Kafirun ayat 1-6 Pada ayat 1-6 surat Al Kafirun, ditekankan untuk dapat bertoleransi kepada umat dari agama dan kepercayaan lain. قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ 1 لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ 2 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ 3 وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ 4 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ 5 لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ 6 Artinya “Katakanlah "Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku". QS Al-Kafirun 1-6. Surat Yunus ayat 40-41 Di dunia ini ada banyak jenis kepercayaan dan agama, ada yang beriman kepada Al Quran dan ada yang tidak. Namun demikian bukan tugas manusia untuk menghakimi masalah keimanan, karena Allah yang lebih mengetahui. وَمِنْهُمْ مَنْ يُؤْمِنُ بِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ لَا يُؤْمِنُ بِهِ ۚ وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِالْمُفْسِدِينَ Artinya “Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al Quran, dan di antaranya ada pula orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan.” QS Yunus 40 وَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ لِي عَمَلِي وَلَكُمْ عَمَلُكُمْ ۖ أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ Artinya “Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah "Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan". QS Yunus 41 Surat Al Kahfi 29 وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا Artinya “Dan katakanlah "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin kafir biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” QS Al Kahfi 29 Surat Al Baqarah ayat 256 Toleransi kepada orang-orang di luar Islam dan tidak memaksakan mereka untuk masuk Islam, karena tidak ada paksaan dalam memasuki agama ini. لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ Artinya “Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Surat Al Hujurat ayat 10 dan 13 Dalam surat Al Hujurat 10 ditekankan toleransi kepada sesama muslim, dan selalu berusaha mewujudkan perdamaian. Sedangkan ayat 13 menjelaskan bahwa perbedaan suku dan bangsa yang diciptakan oleh Allah adalah untuk saling mengenal, bukan saling bertikai. Artinya “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah perbaikilah hubungan antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” QS Al Hujurat 10 Artinya “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” QS. Al-Hujurat 13. Surat Al Hasyr ayat 9 Makna ayat yang ada di surat Al Hasyr ayat 9 adalah toleransi kepada sesama muslim walau berasal dari daerah yang berbeda, status sosial berbeda kaya dan miskin, juga kondisi sosial lainnya. Mereka saling bantu tanpa mengharap imbalan. Artinya “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman Anshor sebelum kedatangan mereka Muhajirin, mereka Anshor 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka Muhajirin. Dan mereka Anshor tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka Muhajirin; dan mereka mengutamakan orang-orang Muhajirin, atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” QS Al Hasyr 9. Contoh Perilaku Tasamuh Berikut ini contoh perilaku tasamuh dalam kehidupan sehari-hari seperti dikutip dari buku Akidah Akhlak kelas VIII terbitan Kemenag Tahun 2020 Menghentikan sementara acara atau rapat karena tiba waktu shalat. Tidak menyalakan klakson motor atau mobil ketika melewati tempat ibadah. Ikut menjaga keamanan dan ketertiban pada waktu umat agama lain merayakan hari rayanya. Memberi waktu untuk libur bagi karyawan yang sedang berhari raya. Menghormati pendapat orang lain terhadap penafsiran dan pemahaman suatu masalah. Tidak makan di sembarang tempat pada waktu siang hari bulan puasa. Hikmah Perilaku Tasamuh Dapat memberikan kesejukan jiwa kepada diri sendiri dan orang lain. Menimbulkan sikap dan perangai yang mulia. Mendapatkan teman yang semakin banyak. Timbul rasa tenang pada diri sendiri dan orang lain. Memudahkan penyelesaian persoalan yang nampak sulit bagi orang lain. Mudah mendapatkan relasi. Jika mendapat kesulitan, akan banyak orang yang menolong. Jika melakukan kesalahan, banyak orang yang mau memahami. Upaya Membiasakan Diri Bersikap TasamuhUntuk mempunyai akhlakul karimah dalam bentuk tasamuh, maka perlu melakukan hal-hal seperti di bawah ini1. Memahami jalan pikiran orang lain atas perbuatan yang dilakukan. Dengan demikian kita dapat lebih mengetahui hakikat dari perbuatan tersebut. Dengan kata lain, tidak hanya menilai fakta, namun perlu memahami Menghargai dan menghormati hak-hak orang lain. Sebagaimana kita juga merasa senang jika keadaan kita dihargai dan dihormati oleh orang Mencoba mengetahui lebih mendalam atas perbuatan orang lain terhadap kita. Sehingga mengetahui sejauh manakah hubungan perbuatan dengan motivasi, keyakinan dan Berusaha lebih teliti melihat perbuatan sendiri. Kemungkinan, orang lain lebih benar daripada apa yang kita Senantiasa mengevaluasi diri. Sehingga tahu akan kekurangan diri sendiri untuk diperbaiki dan mau menghargai orang lain. - Pendidikan Kontributor Cicik NovitaPenulis Cicik NovitaEditor Yulaika Ramadhani
- Firman Allah SWT dalam Surat al-Maidah ayat 48 menunjukkan dengan jelas bahwa Allah menciptakan manusia dengan berbagai variasi warna kulit, bahasa, tabiat, dan bentuk tubuh. Dengan keragaman inilah justru terdapat keindahan dan kesempurnaan. Dengan kata lain, perbedaan merupakan fitrah dan kehendak tersebut berbunyi“Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.”Muhammad bin Abdul Rahman al-Dimasyqi, seorang ulama mazhab Syafii, menegaskan dalam kitab Rahmatul Ummah fi Ikhtilafil Aimmah bahwa perbedaan pendapat di kalangan ulama merupakan rahmat bagi umat. Sebab mereka telah melakukan ijtihad dengan mengerahkan seluruh daya intelektual dan spiritual guna mencari Rasulullah masih hidup, perbedaan pendapat sangat jarang terjadi. Rasulullah adalah tokoh sentral, tempat rujukan segala permasalahan yang dialami para sahabat. Karena itu jika para sahabat berselisih pendapat, mereka segera berkonsultasi kepada Rasulullah. Dan Rasulullah pun kemudian menjelaskan pendapat yang kali para sahabat pernah berbeda pendapat tentang makna sabda Nabi “Janganlah seseorang melakukan salat asar kecuali di Bani Quraidhah.”Sebagian sahabat tetap menjalankan salat asar pada waktunya, meski belum sampai di Bani Quraidhah. Kelompok ini memaknai hadis di atas sebagai perintah untuk mempercepat perjalanan menuju Bani Quraidhah dan bukan sebagai keringanan melakukan salat di luar waktu yang telah ditentukan. Sementara sebagian lain baru menjalankan salat asar setelah sampai di Bani Quraidhah sesuai makna harfiah hadis. Perbedaan pendapat ini disampaikan kepada Rasulullah dan ia tidak mencaci salah satu dari kedua pendapat tersebut. Ini berarti Rasulullah membenarkan setelah Rasulullah wafat, bibit-bibit perbedaan pendapat mulai tumbuh dan berkembang. Menurut Taha Jabir al-Alwani dalam kitab Adabul Ikhtilaf fil Islam, perbedaan pendapat setelah Rasulullah wafat dimulai dari benar atau tidaknya berita Rasulullah meninggal. Hingga kemudian timbul pula perbedaan tentang siapakah khalifah pengganti Rasulullah. Perbedaan pendapat tersebut semakin melebar pada periode Tabiin dan mencapai puncaknya pada era imam mengetahui lebih lanjut tentang sejarah perbedaan pendapat dalam Islam, bisa disimak di artikel berikut ini. - Sosial Budaya Penulis Ivan Aulia AhsanEditor Zen RS
Sesungguhnya Al-Qur’an itu merupakan kitab yang mengandung banyak mukjizat. Salah satu wujud mukjizat itu adalah kandungannya yang tidak pernah berhenti mengalir. Setiap waktu selalu ada ilmu baru yang lahir dari Al-Qur’an. Sehingga tiap ayat bisa melahirkan ilmu yang berbeda-beda, tergantung siapa yang mencoba memaknainya. Para ahli tafsir sendiri sesungguhnya punya latar belakang pendekatan yang bervariasi ketika menggali ayat-ayatnya. Ada yang mendekati penafsiran Al-Qur’an dari segi bahasa, , ada pula yang menekankan dari segi tauhid dan keimanan, ada juga yang menekankan dari segi ilmu fiqihnya, ada lagi yang menekankan dari segi semangat perjuangan dan jihad, ada lagi yang menekankan dari segi sejarahnya. Dan masih banyak lagi corak dan macam tafsir. Namun dari kesemuanya itu, antara satu kitab tafsir dari ulama satu dengan kitab yang lainnya tidak mengalami perbedaan esensi yang saling bertabrakan antara ulama lainnya. Sebaliknya, masing-masing tafsir itu justru saling memperkaya tafsir lainnya. Suatu pelajaran menarik dan penting yang luput diungkap oleh sebuah kitab tafsir, akan kita temukan di dalam tafsir lainya. Khusus dalam ruang lingkup tafsir hukum fiqih, bila terjadi perbedaan dalam menafsirkan suatu ayat, memang merupakan hal yang harus diakui keberadaannya. Namun perbedaan itu tidak timbul kecuali memang disebabkan oleh ayat itu sendiri yang memberi peluang timbulnya perbedaan penafsiran. Sehingga kita tidak bisa menyalahkan para ahli tafsirnya karena mereka saling berbeda kesimpulan. Bahkan petunjuk Rasulullah SAW sebagai representasi dari Al-Qur’an yang berjalan, seringkali dipahami oleh para shahabat dengan versi yang berbeda-beda pula. Yang salah tentu bukan para shahabat memaknainya, melainkan kalimat dari Rasulullah SAW itu memang menimbulkan beberapa kesimpulan yang saling berbeda. Misalnya ketika Rasulullah SAW berpesan kepada pasukan untuk tidak shalat Ashr kecuali di perkampungan Yahudi Bani Quraidhzah. Sebagian pasukan mentaati perintah itu secara zahirnya, yaitu mereka tidak shalat Ashar meski matahari hampir terbenam. Sebab perjalanan mereka masih jauh dari tujuan. Barulah para malam hari mereka tiba dan sebagian dari mereka mengerjakan shalat Ashar di tempat yang ditentukan oleh Rasulullah SAW, meski waktunya sudah lewat. Sebagian lagi tetap shalat Ashar di jalan tepat pada waktunya, lantaran mereka memahami bahwa tujuan Rasulullah SAW melarang mereka shalat Ashar di perkampungan Yahudi Bani Quradhzah adalah agar perjalanan mereka lebih cepat. Namun apabila kenyataannya target itu tidak tercapai, tetap harus menjalankan shalat Ashar para waktunya. Ketika Rasulullah SAW mendengar perbedaan pendapat ini, beliau tidak menyalahkan salah satunya. Keduanya dibenarkan meski saling berbeda secara nyata. Maka demikian juga yang terjadi pada ayat-ayat Al-Qur’an, banyak di dalamnya kalimat yang bisa dipahami secara berbeda, tanpa harus keluar dari kaidah baku penafsiran. Di antaranya perbedaan para fuqaha dalam menafsirkan makna quru’ yang terdapat di dalam ayat berikut وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri tiga kali quru’ . QS. Al-Baqarah 228 Ketika para ahli tafsir merujuk kepada ahli bahasa arab, ternyata makna quru’ itu memang ada 2 macam yang saling berbeda. Makna pertama adalah masa haidh sedangkan makna kedua adalah masa suci dari haidh. Keduanya sama-sama disebut dengan quru’ dalam bahasa arab. Dengan demikian, satu ayat ini mungkin bisa ditafsrikan menjadi tiga kali masa hadih, namun pada waktu yang sama bisa ditafsirkan menjadi tiga kali masa suci dari haidh. Kesalahan bukan di tangan para mufassir, melainkan Allah SWT sendiri yang menurunkan ayat ini. Tentunya Allah SWT kalau mau, bisa saja menyebutkan dengan kalimat yang jelas, tegas dan tidak mengandung makna ganda yang saling berbeda. Namun kenyataannya memang itulah yang ada. Sehingga kalau para ulama berbeda pendapat dalam menafsirknnya, merupakan bukan sebuah perbuatan dosa. Dan syariat Islam menyadari kemungkinan terjadinya perbedaan dalam menafsirkan suatu ayat. Tidak ada yang hina dalam masalah perbedaan tafsir hukum ini. Bahkan sebaliknya, kita bisa merasa bangga dengan kekayaan khazanah ilmu hukum Islam dengan ada banyaknya variasi pendapat lewat perbedaan cara memahami suatu dalil. Karena itu sejak dini para ulama salaf sudah mengembangkan sistem akhlaq dan etika berbeda pendapat. Di mana intinya adalah mereka saling menghormati, menjunjung tinggi dan saling menghargai pendapat saudaranya yang sekiranya tidak sama dengan apa yang mereka pahami. Tidak pernah kita dengar para salafus shalih itu saling mencaci, saling memaki atau saling menghujat bahkan mengumbar aib saudaranya di depan khalayak. Akhlaq mereka sungguh sangat mulia seiring bersama keluasan ilmu yang mereka miliki. Keadaan ini seringkali berbanding terbalik dengan fenomena di masa kita sekarang ini. Begitu mudahnya orang-orang yang mengaku pengikut ulama salaf, namun perbuatan, perkataan dan akhlaqnya justru menginjak-injak etika para salaf. Lidah mereka lebih sering mencaci maki orang lain ketimbang berzikir kepada Allah. Tulisan mereka lebih sering merupakan hujatan dan umpatan ketimbang ajakan. Bahkan seringkali merasa hanya kelompok mereka saja yang berhak mengeluarkan fatwa, sedangkan siapapun yang punya fatwa yang berbeda dengan mereka, meski datang dari tulisan para salafushshalih sendiri, langsung dihujat habis-habisan dan dituduh sebagai ahli bid’ah yang pasti masuk neraka. Nauzu billahi min zalik. Padahal para salafus-shalih di masa lalu terbiasa dengan perbedaan pendapat. Justru ciri khas mereka adalah berbeda pendapat, namun tetap saling menyayangi bahkan sangat mesra. Caci maki, umpata, hujatan dan tuduhan sebagai ahli neraka tidak pernah mereka contohkan. Sebab perbedaan pendapat dalam masalah hukum adalah sebuah keniscayaan, mutlak dan pasti terjadi. Jangankan para ulama salaf, bahkan para shahabat pun seringkali mengalami berbeda pendapat. Padahal mereka hidup bersama Rasulullah SAW pada sebuah era yang disebut dengan khairul qurun masa terbaik. Tapi tidak satu dari shahabat itu yang memaki dengan sumpah serapah sambil menuding temannya sebagai calon penghuni neraka. Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh segelintir orang yang kerjanya menyumpahi orang lain yang tidak sependapat dengannya bukanlah termasuk ahli salaf, karena nama dan realitanya tidak nyambung. Semoga Allah SWT menghindarkan kita dari kejahilan dalam memahami agama, serta mencairkan ketegangan di antara sesama umat Islam, serta menghimpun hati jutaan umat Islam dewasa ini dalam sebuah kecintaan kepada Allah SWT. Sehingga mampu menerima perbedaan pendapat persis sebagaimana para ulam dahulu telah mempraktekkannya.
ayat alquran tentang perbedaan